Jumat, 29 April 2011

makalah pendidikan

MATA KULIAH
KEPEMIMPINAN LISNTAS BUDAYA PERSPEKTIF PENDIDIKAN
PENGARUH AGAMA DAN BUDAYA TERHADAP
KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

Apipudin
10.2.00.1.05.08.0061
Team Teaching
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA
Prof. Dr. Husni Rahim, MA
Prof. Dr. Sucipto
Prof. Dr. Anah Suhaenah

SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

Al-hamdulillah, makalah ini dapat terselesaikan sekalipun penuh dengan perjuangan yang sangat berat. Karena penulis bukan berlatar belakang pendidikan, namun itu tidak menjadi hambatan bagi penulis.
Sekilas sedikit aneh tulisan makalah pendidikan ini, karena pendektannya sedikit berbeda dibandingkan dengan teman-teman yang latar belakang pendidikan. Tapi jika dilihat lebih jauh justru sangat menarik, karena dapat menabah wawsan baru, dan dapat menabah kazanah dalam dunia pendidikan yang terlihat selama ini kaku.
Penulis sengaja dalam penulisan makalah ini, menggiring para pembaca ke dunia masa lalu dengan konteks kekinian. Selain latar belakang penulis pemikiran juga menyadarkan para pembaca bahwa objek pendidikan itu sangat luas.
Harapan penulis tulisan ini dapat bermanfaat bahkan menjadi rujukan para penulis genersi yang akan datang. Sehingga dapat menambah amal baik penulis, atau menjadi s}adaqah jariah. Amin.



Penulis

PENGARUH AGAMA DAN BUDAYA
TERHADAP KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN



A. Pendahuluan
Pemimpin adalah imam sekaligus panutan setiap umat, karenannya pemimpin seyogyanya dapat membawa yang dipimpinnya kearah yang lebih baik. Setiap umat tentu sangat berharap kepada pemimpin karena pemimpin yang memegang kendali. Segala tumpuan dan harapan umat tertuju pada pemimpin. Karenanya tidak berlebihan jika islam dalam menentukan pemimpin sangatlah ketat. Yang jelas pemimpin harus melebihi umat yang dipimpinnya, baik dari sisi keilmuan, usia, dan budaya . Betapa penting pemimpin ini, Rasulallah lewat sebuah daditsnya bersabda:
الفتنة إذا لم يكن إمام يقوم بإمر الناس (رواية محمد بن عوف بن سفيان الحمصى)
Banyak hadits dan ayat-ayat al-Qur’a^n berbicara pemimpin, bahkan ulama seperti al-Mawardi dalam kitab adabu dunya wad din, Muhammad bin al-Husain dalam Al-Ahkam as-Sultha^niyah, Hasn al-Bana dalam fqih syiyasah membahas secara mendalam tentang kepemimpian.
Tertera dalam bahasa arab tiga kata yang mengandung arti yang sama; imam (امام), ra^’in (راع), dan khalifah (خليفة) semua kata itu mengandung arti pemimpin . Secara harfiyah, imam (امام) artinya di depan yang berasal dari kata أمّ يؤم امامة اماما yang artinya di depan. Secara filosofis seseorang yang berada di depan harus menjadi contoh, karenanya imam harus menjadi contoh bukan sekedar memberi contoh. ra^’in (راع) artinya pengembala , seorang pengembala tidak hanya duduk manis melihat yang digembalanya. Melainkan masu ketengah-tengah binatang yang sdang dia gembalai. Bahkan meniup serulingpun di atas binatang yang sedang digembalainya. Hal ini mengandung pesan bahawa seorang pemimpin harus bisa mukhalith (menyatu) dengan yang dipimpinannya. Atau stresingnya seorang pemimpin harus mengenal bahkan menjiwai budaya dari setiap ma’mumnya. Yang ketiga khalifah (خليفة) yang berarti wakil . Ini mengandung arti bahwa seorang pemimpin harus dapat mewakili ma’mumnya.
Jika kita simak tiga kata dalam bahasa arab mengenai pemimpin di atas, melahirkan satu pemahaman. Bahwa seorang pemimpin harus dapat menjadi contoh, menyatu dengan ma’mumnya dan dapat mewakili, menampung keinginan yang dipimpinya. Dalam arti lain seorang pemimpin harus mengedepankan kepentingan bersama. Membuang atribut kelompok, suku, budaya, dan sejenisnya. Namun dalam prakteknya seorang pemimpin tidak terlepas dari budaya, pendidkan, dan agama yang dianutnya. Sehingga seorang pemimpin yang berasal dari suku A atau agama A, besar atau kecil, Nampak atau tidak Nampak dalam memimpinnya akan menonjol warna agama atau budayanya.
Begitu unik berbicara pemimpin, karena dunia ini tidak dapat dilepaskan dari pemimpin. Sejak zaman dahulu sampai sekarang pemimpin selalu ada bahkan menjadi catatan sejarah. Di sadari atau tidak tujuh pulu persen al-Qur’a^n berbicara sejarah, ini artinya berbicara pemimpin dan yang dipimpin. Begitu jumlah Nabi yang wajib diketahui sebayak 25 semuanya ini menggambarkan kepemimpinan. Pepatah mengatakan: لكل شئ سيد (segala sesuatu ada pemimpinanya).
Penulis tidak akan bayak berbicara pemimpin dalam konteks yang lebih luas. Selain menguras tenaga dan fikiran, juga tida maching atau tidak sesuai dengan muktadol hal -nya dengan tugas mata kuliah yaitu pengaruh agama dan budaya terhadap kepemimpinan pendidikan. Karenanya kepemimpinan yang akan penulis sajikan yaitu kepemimpinan pendidikan. Yang akan digambarkan di dalamnya pengaruh-pengaruh kepemimpinan pendidikan. Apa saja yang dapat mempengaruhi kepemimpinan pendidikan itu.
Pendidikan merupakan bimbingan sadar dari sipendidik terhadap siterdidik untuk mencapai kedewasaan yang utama . Karenanya dalam dunia pendidikan perlu terorganisir , agar tercapai visinya. Berbicara organisasi tentu tergambar (tasawur) dalam benak kita ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Dalam duni pendidikan juga demikian. Ketika berbicara kepemimpinan pendidika di dalam sudah jelas adanya pemimpin dan adanya yang dipimpin, adaya pendidik dan adanya peserta didik. Seorang pemimpin dalam dunia pendidikan seharusnya netral, tegak teguh, tetap berdiri di atas kepentingan pendidikan. Laksana batu karang yang tetap teguh, tegar sekalipun selalu dihantam ombak, angin puting belung, bahkan halilintar menyambar.
Sangatlah diharapkan kepemimpinan pendidikan netral, tidak terpengaruh oleh budaya dan agama. Namun realita meng-imformasikan kepada kita, dalam perakteknya tidak ada suatu kepemmpinan yang tidak dipengaruhi oleh agama dan budaya. Begitu juga dengan kepemimpinan pendidikan, sangat dipengaruhi oleh agama dan budaya. Satu kenyataan; kenapa departemen agama tarik menarik dengan departemen pendidikan yang pada akhirnya melahirkan: untuk pelajaran agama dipegang sepenuhnya oleh Departmen agama dan pendidikan umum dipegang oleh departemen pendidikan. Ini satu bukti, bahwa agama dan budaya sangatlah berpengaruh dalam kepemimpinan pendidikan.
Dua hal ini, yaitu agama dan budaya sangatlah berpengaruh terhadap kepemimpinan pendidikan, baik secara pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh gaya kepemimpinan pendidikan di setiap suku atau Negara sangatlah berbeda, ini menunjukan bahwa agama dan budaya sangatlah mewarnai dalam kepemimpinan pendidikan.
Islam datang dengan anjurannya, yaitu belajar (pendidikan), adapun caranya tidak mendetil. Karenanya setiap Negara menciptakan metode sesuai dengan kebudayaannya masing-masing. Ini bukti yang tidak dapat dibantah bahwa apapun bentuknya pendidikan tetap akan dikemas oleh budaya setempat, demikian juga dengan kepemimpinan pendidikan.

B. Yang mempengaruhi kepemimpinan pendidikan
Prilaku manusia didasarkan pada cara pandang manusia itu sendiri, dan cara panadang dipengaruhi oleh agama, budaya, dan pendidikan. Kita dapat menyaksikan sejarah masa silam timbulnya perbedaan faham dalam fiqih, (Hanafi^y, Maliki, Syafi’iy, dan Ahmad bin Hanbal) karena dipengaruhi, budaya, dan pendidikan seorang imam. Meski semua sama menggali al-Qur’a^n dan al-Hadits, tetapi karena dilahirkan dan dibesarkan berbeda maka carapandangnya pun berbeda, sehingga melahirkan kesimpulan yang berbeda . Prbedaan inilah melahirkan madzhab dalam fiqih; Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Habaliyah.
Imam Hanafiy dalam menggali hukum lebih menitik beratkan ke logika (ra’yu), dapat dipahami karena latar belakang beliau adalah pedagang. Dalam keseharian pedangang lebih mengedepankan logika dari pada tradisi, atau budaya dan perasaan. Hal ini yang dapat menghantarkan Imam Hanafi menjadi Madzhab rasional. Sementara Imam Maliki dalam menggali hukum lebih lebih mengedepankan tradisi madinah daripada hadits. Jika ada hadits yang bertentangan dengan tradisi madinah maka hadits dibuang dan tradisi madinah yang diambil. Alasannya sederhana; karenan tradisi madinah adalah tradisi Rasul. Ini tentu sesuai dengan latar belakangnya, yaitu seorang mujtahid muthlak yang dilahirkan di dan dibesarkan di madinah. Bukannya dia dating keguru melainkan guru yang datang kepadanya. Lainhalnya dengan Imam Syafi’iy yang dilahirkan di falistina (jalur gaza), terus mesantren ke Baghdad, yang melahirkan qa^ul (pendapat) qa^dim, dari Baghdad belajar ke Mesir yang melahirkan qa^ul jadid (pendapat baru). Menggabungkan antara rasional dan tradisional. Lain halnya dengan Imam Ahmad dalam penggalian hokum lebih mengedepankan ra’yu sedikit menggunakan hadits .
Hal itu tentu senada dengan kepemimpinan pendidikan, yaitu sangat dipengaruhi oleh agama dan budaya, serta pendidikan seseorang. Kita dapat menyaksikan perubahan nama lembaga, gelar, dan kebijakan, melainkan refleksi dari pengaruh agama dan budaya yang melekat dihati pemimpin. Pusat pengerak manusia adalah hati , dan hati dipengaruhi oleh agama dan budaya . Maka kepemimpinan seseorang dalam dunia pendidikan atau yang lainnya sangat diwarnai oleh dua factor tersebut.

1. Pengaruh agama terhadap kepemimpinan pendidikan
Manusia akan merasa tentram jika berdekatan dengan agama, atau prilakunya dibenarkan oleh agama. Hal ini karena agama merupakan kebutuhan jiwa manusia . Demikian tentunya dengan kepemimpinan pendidikan. Seorang pemimpin akan merasa yaman, tentram jiwanya jika konsep pendidikan yang dia sajikan tidak bertentangan dengan agama yang dia anut. Karena itu setiap pemimpin dalam bidang pendidikan akan membuat suatu konsep yang tidak bententangan dengan agama yang dia peluk, bahkan menjadi alat pendukung kebenaran agamanya.
Di sisi lain agma mengajarkan kepemimpinan dalam hal apapun, yang baik menurutnya. Satu bukti setiap agama pasti di dalamnya ada pemimpin , perhatikan saja dalam setiap agama ada yang namanya pemimpin agama. Baik disebut kiai, pendeta, pastur, dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan setiap pemimpin dalam agama pasti mendidik umatnya. Karena agama berpengaruh dalam dunia pendidikan, maka pemenrintah tidak tinggal diam ikut serta mengatur dengan cara membuat aturan-aturan pendidikan yang tertuang pada undang-undang.
Suatu pendidikan akan dipengaruhi oleh orang yang memimpinnya. Akan bangaimana warna pendidikan di Indonesia tergantung kepada pemimpin. Sebab pemimpin yang mempunyai otoritas dalam membuat system pendidikan, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap warna pendidikan di Indonesia. Hal ini sangat disadari oleh pemerintah, makanya dalam undang-undang sisdiknas, pada bab lima pasal satu poin (a); peserta didik mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
Pembuatan undang-undang dalam dunia pendidikan merupakan kesadaran akan pengaruh agama. Sebagai contoh; peserta didik yang Bergama islam, diajar oleh orang yang beragama luar islam itu sangat berbahaya. karena dalam pengajarannya akan dibiaskan nilai-nilai islam. Sebagaimana kita baca buku-buku orientalis berbicara islam, sekila Nampak tidak ada yang salah. Namun jika kita mau mengkaji lebih jauh akan kelihatan misi-misi dibalik teks-teks yang yang mereka tulis.


C. Pengaruh budaya terhadap kepemimpinan pendidikan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk di dalamnya adalah belajar. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraian berikut :

1. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial
Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.
Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.
Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali.

2. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu
Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya.
Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai :
1. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.
2. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.
3. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin.
4. Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga di kamarnya menjadi sejuk. Dalam hal ini, individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.
Dari uraian di atas, tentunya menyadarkan kita kepada beberapa hadits rasul:
كل مولد يولد على الفطرة فآبواه يهودانه او ينصرانه اويمجسانه (رواه البخارى)
المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل (رواه الترمذى)
Secara makna bebas manusia dilahirkan bersih laksana sebuah kertas yang tidak ada warana tinta apapun. Menjadi apapun kelak nanti manusia dipengaruhi oleh agama dan budaya sekitarnya. Ini juga dapat menetukan warna kepemimpinan pendidikan di Indonesia.
Sudah pasti budaya sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan seseorang. Tidak dapat dipungkiri kesalahan budaya pendidikan Indonesia adalalah terletak pada budaya, yaitu membuat guru di sekolah tidak mandiri lagi. Banyak hal yang selama ini yang para guru di sekolah putuskan dan kerjakan sendiri, sekarang mereka sangsi putuskan dan kerjakan karena yang sudah membudaya di dunia pendidikan kita hal apapun yang berkaitan dengan pendidikan harus mendapatkan restu dari atas .
























KESISMPULAN


Kepemimpinan pendidikan seseorang sangatlah ditentukan oleh budaya dan agama. Sebuab agama dan budaya dapat membentuk cara pandang, dan cara pandang akan mempngaruhi prilaku seseorang. Seseorang berbuat, bertindak sesuai yang dia pahami.
Jangankan berbeda agama, seagamapun karena budayanya berbeda maka dalam mengimplemtasikan agama akan berbeda pula. Lihat saja realita yang ada di atas panggung rpublik ini.


















DAFTAR PUSTAKA



Abas, Sirajuddin, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’iy, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah) 2003
Abdul Qadir Abu Faris, Muhammad. Fiqih Politik Hasan al-Bana. (Solo: Media Insani) 2003
Adnan, Hamdan. Prinsip-Prinsip Hubungan Kemasyarakatan. (Surabaya: Usaha Nasional) 1996
Amarah, Muhamad Mustafa, Jawahir Bukhariy, (Dar-al-Fikr)
Ghazali, Imam, al, Minhajul Abiddin (Dar al-Ulum)
Kumpulan Makalah Ikip Muhammadiyah Jakarta. Reorientasi Pendidikan di Indonesia.
Nata, Abudin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana 2010) cet. Ke 1
-----------------------------------------------Dengan pendekatan Multi disipliner (Jakarta: Raja Wali
Press) cet ke 2
Nursam, Amin, Rahasia Hati (Jakarta: CV Bintang Pelajar)
Marimba, Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidika, (Bandung: al-Ma’arif)1962
Mawardi, al, Abi Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bas}riy, Adabu Dunya Wa ad-Din,
(Dar al-Fikr)
Sudrajat, Ahmad. Internet (Blog: Tentang Pendidikan)
Shihab, Quraish. Tafsir al-Misbah. (Ciputat: Lentera Hati) 2002
Tafsir, Ahmad. Metodologi Pengajaran Agama Islam. (Bandung: R) 1995
Ulwan, Abdullah Nashih, Tarbiyatul Aulad (tarjamah) (Jakarta Pustaka Amani) 1999
Yunus Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar